
Opini Musri Nauli : Wai Humba – Tradisi Panjang Tentang Alam
November 1, 2022
OPINI Charpus Nyoman Johni Chirmoko ; Bencana, Ketidakadilan, dan Kemendesakan Suatu Kesalehan Ekologis
November 4, 2022Dalam pengucapatan terhadap Tuhan juga dikenal “Mawulu Tau” (yang menciptakan manusia), Ina Mbulu – Ama Ndaba (Ibu dan bapak dari segala sesuatu), Ina Nuku – Ama Hara (Ibu dan Bapak segala urusan).
Sebagai masyarakat yang mengagungkan dan menghormati tentang alam, masyarakat Humba mengenal struktur social yang biasa dikenal Maramba. Maramba terdapat didalam Kabihu.
Kabihu adalah kelompok kekerabatan yang berasal dari sistem kekerabatan berdasarkan keturunan garis ibu. Sistem kekerabatan ini mirip dengna “kaum“ dari masyarakat Minangkabau. Atau “guguk” atau Kalbu di Jambi.
Sehingga Kabihu memiliki struktur seperti Maramba dan Ratu.
Istilah Raja tidak dikenal didalam struktur adat. Pengikraran Raja dikalangan tertentu tidak menjadi bagian dari masyarakat di Sumba. Belanda kemudian menghancurkan pranata dan kemudian membuat struktur seperti Maramba, Ratu, Kabiku, Ata. Struktur ini kemudian dikendalikan Belanda sehingga urutan struktur kemudian membuat lapisan social menjadi berbeda.
Dalam struktur social, pemangku pemerintahan mengenal Praingu. Praingu dapat dikategorikan sebagai struktur setingkat pemerintahan Desa.
Dalam struktur ini kemudian didalam Praingu mengenal sistem kekerabatan yang terletak di Praingu. Setiap kabihu diusulkan oleh kekerabatan masyarakat. Sehingga didalam Praingu terdapat beberapa Kabihu.
Humba tidak terpisahkan dari rumah adat khas dengan atap menyertai dan berbentuk limas besar diyakini sebagai tempat pemujaan kepada leluhur. Selain itu juga berfungsi sebagai “Uma Dana” yang juga berguna sebagai tempat menyimpan keramat, Bei Uma, rumah utama sebagai kegiatan sehari-hari dan Kali Kambunga, yaitu kolong rumah yang digunakan sebagai kandang hewan peliharaan.





