
Opini Musri Nauli : Wai Humba – Tradisi Panjang Tentang Alam
November 1, 2022
OPINI Charpus Nyoman Johni Chirmoko ; Bencana, Ketidakadilan, dan Kemendesakan Suatu Kesalehan Ekologis
November 4, 2022Membicarakan Sumba teringat 5 tahun yang lalu. Menghadiri undangan dari Direktur Walhi NTT di Pulau Sumba. Tradisi merayakan Hari Air (Way Humba) Oktober tahun 2016.
Negeri Sumba yang kemudian didalam dialek sering disebutkan “Humba” tidak dapat dilepaskan dari Pulau Sumba. Salah satu pulau yang berjejer dari Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Sehingga dengan penyebutan “Humba” maka tidak dapat dilepaskan dari negeri Sumba.
Catatan arkeologi kemudian menempatkan jajaran pulau ini sering disebutkan sebagai “Sundaland”. Atau Pulau Sunda.
Dalam pandangan kosmopolitan, orang Humba menganut keyakinan “Marapu”. Marapu berarti “Yang dihormati” Leluhur orang Humba yang kemudian dihormati merupakan “jalan” untuk menemukan Keilahian”. Menemukan Tuhan yang menciptakan bumi dan pohon sebagai kehidupan (Pertemuan di Laiwotang, 29 Oktober 2016).
Sebagai ajaran leluhur Marapu, maka setiap keturunan dari orang Humba tidak boleh merusak alam, menghormati binatang, mengambil barang orang lain, tidak boleh berbohong. Ajaran ini kemudian menempatkan “anatala” yang mengawasi segala tindak tanduk manusia di muka bumi. Penyebutan “anatala” hanya disebutkan didalam doa-doa yang diucapkan oleh ratu didalam doanya didalam “Pamangu Ndewa”.





