
Proyek Geothermal dan Perempuan Poco Leok yang Melawan
Maret 8, 2023
WALHI NTT : PENERBITAN IZIN PENGELOLAAN HASIL SEDIMENTASI DI LAUT TIDAK MELIHAT KONSEKUENSI EKOLOGI
Mei 30, 2023Hutan: Tempat Perempuan NTT Membangun Peradaban dan Menimba Mata Air Kehidupan
Oleh: Gres Gracelia
Divisi Advokasi, Kampanye dan Pengorganisasian Rakyat WALHI NTT

“Perempuan tidak hanya mengumpulkan dan mengonsumsi apa yang tumbuh di alam, tetapi membuat segala sesuatu menjadi tumbuh.” Maria Mies (1986 dalam Shiva, 1988;1998)
Pernyataan Maria Mies, seorang penulis feminis dan ekologi ini menyiratkan bahwa perempuan sejatinya bukanlah penguasa alam melainkan sebagai mitra alam.
Di mana dari alam, perempuan bisa menumbuhkan kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya di bumi dengan memanfaatkan sumber daya yang disediakan oleh alam.
Hasil-hasil alam itu kemudian dikreasikan dalam kerja-kerja produktivitas para perempuan, lalu dimanfaatkan untuk kehidupan mereka.
Dalam sejarah jejak produktivitas perempuan primitif, hutan menjadi ruang belajar bagi perempuan untuk melakukan kerja-kerja produktif demi merawat keberlangsungan dan keberlanjutan kehidupan.
Evelyn Reed dalam bukunya, Evolusi Perempuan dari Klan Matrialkal Menuju Keluarga Patriarkal:
“Para perempuan awal, para “feminis”, memulai kegiatan kerja mereka tanpa diajari siapa pun. Mereka memulai belajar segala sesuatu dengan cara yang sulit, diteguhkan hanya dengan kegigihan, keberanian, kecerdasan dan kecerdikan kolektif. Mereka belajar semua hal itu dari pengamatan langsung terhadap makhluk hidup di alam.”
Hutan diibaratkan sebagai satu-satunya laboratorium ilmiah bagi perempuan primitif untuk mengali sekaligus membangun peradaban.
Jika di masa lampau kita mengenal pekerjaan laki-laki adalah berburu dan menangkap ikan dan juga bertarung, maka pekerjaan perempuan adalah melakukan semua hal lainnya. Semua hal lainnya itulah yang kita kenal sebagai kerja-kerja meramu. Baik itu makanan, maupun meramu hasil hutan untuk menghasilkan kerajinan.
Hutan menjadi sumber pangan bagi masyarakat primitif dan perempuan melakukan kerja pengendalian terhadap persediaan makanan. Mengendalikan tak hanya berarti mencukupi makanan pada hari ini, melainkan surplus untuk esok hari dan kemampuan mengawetkan juga melestarikan ketersediaan untuk penggunaan di masa depan. Seperti yang dijelaskan Evelyn Reed dalam bukunya, jejak merawat keberlanjutan kerja perempuan dalam memperoleh dan mengembangkan persediaan makanan, menemukan sumber dan jenis makanan serta pengetahuan tentang cara pengawetannya adalah kemampuan perempuan untuk mengelola hasil alam yang tersedia di hutan.
Selain bekerja untuk mengendalikan persediaan makanan, perempuan juga menjadi “pengrajin” pertama untuk menemukan rangkaian teknik dan peralatan pengawetan makanan yang didapat dari hasil hutan, misalnya wadah-wadah tempat memasak, menyajikan dan menyimpan makanan dan minuman yang terbuat dari kayu, kulit kayu, serat dsb.





