
SUMPAH PEMUDA, KEADILAN EKOLOGI, DAN KEADILAN ANTAR GENERASI
Oktober 31, 2022
Opini Musri Nauli : Pandangan Orang Humba
November 2, 2022Dalam Festival Wai Humba V di Sumba Timur, ditemukan berbagai rangkaian kegiatan. Salah satunya menyusuri tempat sumber air dan tempat yang dikeramatkan berhubungan dengan leluhur orang Humba.
Memaknai kata “Wai” tidak sekedar tentang air. Makna yang tersirat adalah penghormatan terhadap leluhur yang menempuh perjalanan panjang mengitari Pulau Humba. Tradisi ritual “wai” merupakan perayaan dan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberikan bumi dan kehidupan kepada manusia.
Dalam ritual napak tilas menyusuri kedatangan Leluhur orang Humba, Wai humba terdapat di Waingapu (Kabupaten Sumba Timur), Wai Bakul (Kabupaten Sumba Tengah), Wai Kabulaka (Kabupaten Sumba Barat) dan Wai Tabulaka (Kabupaten Sumba Barat Daya). Keempat pusat “wai” merupakan muara air sungai yang mengairi keseluruhan pulau Sumba.
Keempatnya berasal dari Empat Gunung yang dihormati. Seperti Gunung Wangga Meti (Kabupaten Sumba Timur), Tanah Daru (Kabupaten Sumba Tengah), Yawila (Kabupaten Sumba Barat Daya) dan Puru Humbu (Kabupaten Sumba Barat). Keempat pusat air diyakini harus dijaga sebagai sumber kehidupan.
Keempat wai ini bermula dari turunnya “leluhur” Himba di Tanjung Haharu”. Leluhurnya diyakini bernama Umbu Walumaduko. Berbagai napak tilas selain menyusuri perjalanan leluhur juga menghormati tanah-tanah keramat, benda-benda magis, tanah kapur dan tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat yang dihormati.
Kekuatan kolektif masyarakat Humba tidak sekedar semata-mata berkaitan dengan tradisi adat. Dalam pandangan cosmopolitan, orang Humba menganut keyakinan “Marapu”. Marapu berarti “Yang dihormati”. Leluhur orang Humba yang kemudian dihormati merupakan “jalan” untuk menemukan Keilahian”. Menemukan Tuhan yang menciptakan bumi dan pohon sebagai kehidupan.
Sebagai ajaran leluhur Marapu, maka setiap keturunan dari orang Humba tidak boleh merusak alam, menghormati binatang, mengambil barang orang lain, tidak boleh berbohong. Ajaran ini kemudian menempatkan “anatala” yang mengawasi segala tindak tanduk manusia di muka bumi. Penyebutan “anatala” hanya disebutkan didalam doa-doa yang diucapkan oleh ratu didalam doanya di dalam “Pamangu Ndewa”. Dalam pengucapan terhadap Tuhan juga dikenal “Mawulu Tau” (yang menciptakan manusia), Ina Mbulu – Ama Ndaba (Ibu dan bapak dari segala sesuatu), Ina Nuku – Ama Hara (Ibu dan Bapak segala urusan).





