
OPINI Charpus Nyoman Johni Chirmoko ; Bencana, Ketidakadilan, dan Kemendesakan Suatu Kesalehan Ekologis
November 4, 2022
MEMBANGUN LUMBUNG DI LAUT
November 11, 2022Tulisan ini berangkat dari sebuah asumsi dasar bahwa relasi antara ekspansi kapital dan perampasan sumber daya alam selalu didesain dalam satu kata sakti: pembangunan. Rezim pembangunanisme (developmentalism) secara historis dikukuhkan dalam pidato Truman pada tahun 1949 dan mendapat bentuknya yang paling purna dalam pembangunan neoliberalisme dengan memisahkan secara tegas antara ekonomi dan politik saat merumuskan kesejahteraan masyarakat global. Dalam proses kerjanya, pembangunan kemudian menjadi basis material untuk modernitas sehingga akumulasi menjadi titik sentral dari pertumbuhan ekonomi, khususnya kontrol atas sumber daya alam. Sementara itu, problem terbesar dari kapitalisme masa kini adalah semakin habisnya ruang. Habisnya ruang ditandai dengan semakin sempitnya lahan untuk mencari garapan baru (ekspansi). Karena itu, menurut Harvey, kerja kapitalisme masa kini adalah dengan cara akumulasi melalui perampasan (accumulation by dispossestion).
Sehubungan dengan itu, tulisan ini akan mengkaji berbagai krisis ekologi yang timbul akibat praktik ekspansi kapital yang gencar dilakukan lewat pembangunan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tulisan ini terstruktur dalam beberapa bagian: Pertama, menelisik sejarah singkat ekspansi kapital yang bekerja lewat wacana dan proyek pembangunan di Indonesia pada umumnya, dan NTT pada khususnya. Kedua, menelaah mekanisme kerja ekspansi kapital dan pembangunan, kemudian melihat bagaimana implikasi-implikasi terhadap perampasan sumber daya alam yang terjadi di NTT. Keempat, menawarkan beberapa solusi yang bisa dijadikan aksi untuk meredam kekuatan ekspansi kapital dan politisasi pembangunan yang dicanangkan oleh korporasi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Menengok ke Belakang
Pembicaraan mengenai ekspansi kapital selalu bertalian dengan dinamika kelas yang terjadi dalam masyarakat. Asal-muasal kapitalisme di Indonesia melewati serangkaian tahapan waktu. Studi Robison menunjukkan bagaimana kapitalisme berkembang pesat pada era Orde Baru dan negara sendiri yang berperan sebagai katalisatornya. Ia menjelaskan bagaimana evolusi negara dari zaman kolonial, zaman pascakolonial awal, serta Orde Baru yang sangat berhubungan erat dengan pertumbuhan kelas kapitalis. Konsekuensinya, kelas kapitalis kemudian menjadi begitu penting dalam menjelaskan titik soal ekonomi politik di Indonesia. Namun, sekalipun kelas kapitalis ini lahir dari rahim negara, ia telah tumbuh menjadi gagah perkasa sehingga negara pun nyaris dicengkeram dan dikuasai olehnya. Karena itu, dikotomi penguasa-pengusaha sudah tidak relevan karena keduanya telah menyatu melalui perkawinan antara modal dan birokrasi negara. Lebih lanjut, perkawinan tersebut melahirkan keluarga-keluarga politik birokratis dan konglomerat raksasa yang posisinya tidak ditentukan mekanisme pasar yang abstrak, tetapi lewat sistem patronase yang tersentralisasi di bawah Soeharto.




