
Warga Wae Sano Konsisten Menolak Proyek Geothermal
November 24, 2022
Perempuan NTT dalam Bayang – Bayang Krisis Ekologi Akibat Pembangunan Berwatak Kapitalis dan Patriarki
November 29, 2022
Bumi Merapu 17 November 2022, hujan dan bunyi petir seakan menjadi pertanda alam, bahwa restu alam dan leluhur turut dalam momentum festival wai humba yang telah ke sembilan kalinya dilaksanakan di bumi merapu.
Festival Wai Humba IX yang berlangsung di Kampung Praing Wundut, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tanggal 17 – 20 November 2022, memberi pesan penting bagi kehidupan orang Sumba dan NTT pada zaman ini.
Festival ini merupakan Festival tahunan yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi lingkungan hidup yang terjadi di pulau Sumba. Perwakilan dari empat gunung Wanggameti, Yawila, Pura Nobbu, Tanadaru, turut memberi kesan tersendiri dalam festival ini. Hadir dengan niat luhur yang sama yakni mempertahankan budaya dan ekologi Sumba, menolak punah atas kebijakan yang mengeksploitasi budaya dan alam Sumba secara brutal, adalah alasan dasar kenapa Sumba perlu dihubungkan untuk melawan kerakusan dan keserakahan.
2012 pertama kali festival ini dilakukan, tidak sekedar menciptakan kemeriahan tanpa substansi mendasar. Kami bukan Humba yang menuju kepunahan, secara lantang dan tegas, orang Humba menyatakan bahwa kami masih ada menjaga alam Humba untuk keabadian Humba yang terwariskan ke anak cucu kelak.
Sumba terlalu mahal untuk digadaikan ke para pebisnis emas yang sudah sejak awal berniat menggadaikan Sumba. Kearifan lokal yang telah dihasilkan orang tua zaman dulu ternyata masih mampu menjawab berbagai tantangan sosial ekonomi dan lingkungan yang semakin hari semakin tidak terkendali akibat berbagai aktivitas produksi manusia. “Kita patut bersyukur dengan apa yang telah dibangun oleh masyarakat saat ini dengan mengedepankan nilai luhur budaya untuk menjaga keseimbangan.
Festival ini menjadi salah satu jembatan baru untuk mendekatkan kembali manusia dengan sang Pencipta dan alam sekitarnya. Serta sebagai salah satu upaya untuk berdialog dengan budaya Humba dalam konteks meningkatkan perlindungan dan keberlanjutan alam dari kegiatan yang tidak ramah terhadap lingkungan dan budaya.
17-20 November 2022 Paraing Wundut, Lewa – Sumba Timur waktu yang tepat untuk dicatat sejarah pelaksanaan Wai Humba ke sembilan. Ini solidaritas orang Humba yang sedang menunjukan komitmen bersama dalam merajut solidaritas dalam mencatat cerita sebagai satu Humba yang terhubung dari ujung Timur sampai Barat. Nda Humba Li La Mohu A Lama (Kami bukan Sumba yang menuju kemusnahan). Ini tanahnya kami, ini kepercayaannya kami. Orang Humba sudah harus sadar, kami bukan Humba Lila Mohu (Sumba yang menuju kemusnahan)






1 Comment
Kita harus bersatu se daratn sumba utuk pulikan alam yg suda terkuras. Ole perbedan iklim. Tana marapu adala tiripan lelur yg perlu kita jaga secara bersama.sama