
Krisis Iklim Adalah Krisis Hak Anak
Juli 24, 2023
Ragu dengan Pengadilan, Terdakwa dan Keluarga Nikodemus Manao Tidak Banding.
Juli 31, 2023Dikutip dari American Museum of Natural History, seorang nelayan dari Thailand pernah berkata, “Jika tidak ada hutan bakau/mangrove, maka laut tidak akan memiliki makna. Seperti pohon tanpa akar, karena bakau/mangrove adalah akar bagi laut.” Kalimat ini menunjukan betapa pentingnya tanaman mangrove bagi kehidupan segala ekosistem di laut misalnya.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional dan Status Ekosistem Mangrove di Indonesia oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan, Indonesia memiliki luas ekosistem mangrove nasional sebesar 3.311.207,45 ha, yang mana ekosistem mangrove dalam kawasan sebesar 2.533.488,01 ha dan di luar kawasan sebesar 777.719,44 ha. Dengan sebaran ekowisata mangrove sebanyak 183 di setiap provinsi sebagai mangrove center.
Data ini menunjukan bahwa sekitar 3 juta hektare hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia. Jumlah ini mewakili 23% dari keseluruhan ekosistem mangrove di dunia. (Giri, et al., 2011) dilansir dari forestsnews.cifor.org. Sedangkan untuk luas wilayah mangrove nasional wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 34.835 ha. Data dari Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) wilayah I Bali 2011, menunjukkan luas hutan mangrove di Nusa Tenggara Timur mencapai 40. 614,11 ha.
Siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan, pasca diterpa badai siklon Seroja di NTT, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut ( Ditjen PRL) melakukan survei awal untuk mengetahui kondisi terumbu karang pasca bencana dengan mengidentifikasi kerusakan dan perubahan sebaran terumbu karang dari data awal yang dimiliki.
Survei yang dilakukan dengan menggunakan drone untuk memantau secara cepat kerusakan terumbu karang dengan metode transek sabuk pada tubir terumbu karang, menunjukan adanya indikasi kuat bahwa siklon Seroja yang terjadi di NTT pada April 2021 lalu menyebabkan kerusakan cukup besar pada terumbu karang meskipun tidak merata di semua tempat.




