
Opini Musri Nauli : Pandangan Orang Humba
November 2, 2022
OPINI : DUNSTAN MAUNU OBE ; Ekspansi Kapital, Pembangunan, dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Hidup di NTT
November 9, 2022
Charpus Nyoman Johni Chirmoko
Kesalehan Ekologis
Akar antroposentrik masalah ekologi mengharuskan kita untuk mencari solusi tidak hanya dalam ekonomi dan teknologi, tetapi juga terutama dalam perubahan antropologis yang radikal dan holistik. Kita pertama-tama harus mengakui dan menyesali semua dosa sosial-ekologis kita yang telah membawa kerusakan pada alam dan sesama manusia.
Bahkan kalau kita hanya menyebabkan kerusakan kecil, kita dipanggil untuk mengakui kontribusi kita dan menyesalinya dengan sungguh. Pemulihan hubungan kita dengan alam, sesama, dan Tuhan harus dimulai dari pertobatan ekologis macam itu.13 Tak cukup sampai di situ, kita perlu membangun suatu habitus eko-spiritual yang baru, yang diwujudkan dengan menghormati martabat luhur setiap anasir alam. Bagi John Duns Scotus (1265-1308), filsuf sekaligus teolog Abad Pertengahan, habitus itu harus dihidupi dengan mendekati segala sesuatu menurut haecceitas mereka masing-masing.14 Haecceitas merupakan istilah Latin, yang berarti “thisness” atau “ke-ini-an”. Dengan istilah ini, Duns Scotus menunjukkan bahwa sejak awal mula setiap anasir alam semesta memiliki nilai keutamaan yang unik, tidak terulang dan tergantikan, dan terbedakan dari yang lain, sehingga harus dihargai dan dihormati menurut nilai intrinsiknya.
Menurut Duns Scotus, tanah, batu, air, kerbau, pepohonan, matahari, bulan, bintang, termasuk Poro Duka (45 tahun) yang tewas tertembak saat menolak pengukuran tanah yang dilakukan pihak investor di pesisir Marosi, Sumba Barat (25 April 2018), memiliki nilai esensial dan keunikan pada dirinya sendiri. Sebelum semua anasir alam itu lahir ke dunia, hidup, beraktivitas, dan berinteraksi dengan ciptaan-ciptaan lain, atau bahkan sebelum kita menamakan mereka Poro Duka, tanah, air, kerbau, kucing, mangga, dan sebagainya, mereka sudah bereksistensi sejak sedia kala dan sudah memiliki “ke-ini-an” (haecceitas), esensialitas, dan nilai intrinsik masing-masing. Oleh karena itu, kita perlu menghormati mereka menurut martabat luhurnya sebagai ciptaan yang tak tergantikan, dan tak pernah boleh merusaknya dengan alasan apa pun.
Sama seperti manusia, demikian kata Duns Scotus, entitas alam yang lain lahir sebagai inkarnasi unik dari Tuhan yang penuh kasih sayang.15 Karena itu, mengikuti guru mistiknya, Santo Fransiskus Assisi, Duns Scotus mengajak kita untuk mendekati entitas alam yang lain sebagai ‘saudara’ dan ‘saudari’, yang diciptakan, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah Bapa yang sama.16 Kita mesti mencintai segala entitas alam dalam keunikannya, merangkul mereka dalam personanya, menghormati mereka dalam singularitasnya, dan memeluk mereka dalam interioritasnya. Inilah yang dimaksud dengan “kesalehan ekologis”, sebuah sikap eko-spiritual yang berusaha mendekati setiap anasir alam menurut martabat sakralnya sebagai ciptaan yang luhur.
Dalam terang haecceitas Duns Scotus, konsep Hak Asasi Manusia (HAM) tidak boleh dilihat secara sempit dan antroposentrik, tetapi perlu dilihat secara luas dalam horizon progresif tentang hak asasi setiap ciptaan. Hanya dalam horizon itu, kita dapat menumbuhkan apa yang disebut kesalehan ekologis tersebut.




