
Opini Musri Nauli : Pandangan Orang Humba
November 2, 2022
OPINI : DUNSTAN MAUNU OBE ; Ekspansi Kapital, Pembangunan, dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Hidup di NTT
November 9, 2022Dosa Sosial-Ekologis
Rendahnya sensibilitas dan solidaritas sosial-ekologis dimulai ketika kita merasa menjadi tuan atas alam, yang berhak untuk menguasai dan menjarahnya.9 Kita merasa paling superior dan tak melihat apa pun kecuali diri kita sendiri. Dalam bahasa populer, gejala psikologis ini biasa disebut egois atau arogan. Dalam bahasa spiritual, gejala ini disebut dosa, yaitu suatu keterpusatan berlebihan pada diri sendiri dan menutup mata dan hati bagi entitas alam yang lain, bahkan bagi Tuhan yang menyelenggarakan semua kehidupan di alam semesta.
Kekerasan yang melumuri hati kita akibat dosa tercermin dalam kerusakan ekologis yang makin parah.10 Kerusakan ini membuat Bumi terbebani dan hancur, termasuk orang orang miskin yang paling sering menanggung akibatnya. Dosa personal kita akhirnya meluber menjadi dosa struktural, dosa sosial, dan dosa ekologis, sebab dampak dari keserakahan kita akhirnya juga ditanggung oleh anasir alam yang lain, termasuk sesama manusia yang terdampak bencana.
Dosa ekologis membuat kita tak lagi mampu melihat nilai sakral setiap entitas alam. Sekularisme, peradaban industri, dan struktur ekonomi kapitalistik menyuburkan dosa ekologis tersebut, sebab manusia dikondisikan untuk tak melihat makna lain dalam alam selain apa yang berguna untuk dipakai dan dikonsumsi. Sementara konsumerisme adalah manifestasinya, di mana manusia terus terdorong untuk ‘memakai’ dan ‘membuang’. Dengan ini, Bumi tak ubahnya objek garapan sekaligus tempat sampah besar untuk manusia. Hal ini memperburuk degradasi lingkungan dan meningkatkan intensitas bencana.
Skolimowski benar, bahwa kemerosotan ekologis dan peristiwa bencana yang mengikutinya terkait inheren dengan kemerosotan sosial-kemanusiaan.11 Dua hal ini mempunyai korelasi yang mendalam, sebab masalah ekologis berakar kuat pada hati dan pikiran manusia yang rapuh. Ketidakmampuan manusia mengembangkan empati sosial dan solidaritas kemanusiaan tercermin dalam absennya sensibilitas ekologis. Kita lupa, bencana alam yang bersumber dari perilaku egoistik-destruktif kita pasti akan selalu berujung pada bencana kemanusiaan. Ini terbukti dari banyaknya kerugian dan korban jiwa yang dialami saudara-saudara kita yang tertimpa bencana beberapa tahun terakhir.
Kita mesti sadar, kerusakan yang telah kita timpakan kepada alam telah berujung penderitaan dan kematian orang lain. Ini adalah dosa, sebab kejahatan terhadap alam dan kekerasan terhadap yang lain adalah dosa terhadap Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu di alam semesta dengan baik.12




