
Opini Musri Nauli : Pandangan Orang Humba
November 2, 2022
OPINI : DUNSTAN MAUNU OBE ; Ekspansi Kapital, Pembangunan, dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Hidup di NTT
November 9, 2022Logika kapitalistik, yang selalu profit-oriented, membuat kita makin serakah. Alam terus dikeruk tanpa terkendali, tanpa memikirkan dampak buruknya bagi seluruh tatanan ekosistem. Inilah buah dari antroposentrisme, yang menyeruak dari rahim modernitas yang selalu kita bangga-banggakan itu.6 Bencana, termasuk wabah Covid-19, persis muncul sebagai koreksi alam atas sikap, cara pandang, dan paradigma pembangunan kita yang cenderung fragmentaris dan antroposentrik.
Apa yang diperjuangkan dalam paradigma pembangunan antroposentrik bukanlah kesejahteraan seluruh komponen ekologis, melainkan dominasi manusia atas alam sekitar. Hal ini menjadi potret ketidakadilan baru di zaman ini, yang disebut Paus Fransiskus sebagai “ketidakadilan ekologis”.7 Fenomena ketidakadilan ini menguat ketika kita, manusia-manusia modern, hanya memprioritaskan kepentingan konsumsi saat ini dan melupakan keselamatan anasir alam yang lain, termasuk generasi anak-cucu kita di masa mendatang. Maka, ketidakadilan ekologis secara intrinsik mengandung ketidakadilan antargenerasi.
Obsesi berlebihan pada pertumbuhan ekonomi membuat kita hanya berfokus pada maksimalisasi keuntungan, tanpa mengedepankan kepedulian otentik pada lingkungan serta hak hidup layak generasi mendatang. Logika pertumbuhan ekonomi cenderung menghasilkan otomatisasi dan homogenisasi.8 Rasionalitas instrumental yang beroperasi di baliknya membuat kita sulit melihat keseluruhan secara seimbang dan cenderung melupakan nilai sakral setiap bagiannya.
Kita memang mafhum, fragmentasi pengetahuan dalam pelbagai bidang de facto bermanfaat untuk kehidupan nyata. Namun, masalahnya, tren fragmentasi pengetahuan itu sering kali tidak dibarengi dengan sensibilitas dan solidaritas sosial-ekologis yang tulus. Bencana persis masuk saat kita mengabaikan ruang kosong itu.




