Padi Ketan Hitam (Kadita Metung) Padi Lokal Organik Produksi Komunitas Dampingan WALHI NTT

WALHI NTT DUKUNG PENOLAKAN WARGA TERHADAP RENCANA PENAMBANGAN PANAS BUMI DI DESA RADABATA DAN DADAWEA
January 22, 2021
MENANGGGAPI WACANA PERMINTAAN KRITIK DAN REVISI UU ITE, KOMUNITAS SAHABAT ALAM NTT HELAT DISKUSI VIRTUAL
February 21, 2021

Padi Ketan Hitam (Kadita Metung) Padi Lokal Organik Produksi Komunitas Dampingan WALHI NTT

 

Kelompok Tani Kambu Reti, salah satu Kelompok tani di Desa Persiapan Pindu Wangga Wundut, Kecamatan Lewa Sumba Timur  NTT meluncurkan produk komunitas ramah lingkungan, yaitu padi ketan hitam. Dalam bahasa Lewa (Sumba Timur) padi ketan hitam biasa disebut Kadita Metung. Produk tersebut dikemas dalam kemasan lokal berbahan daun pandan dan lontar (Bakul) yang dianyam oleh ibu-ibu di kampung Wundut Kambu Reti. Setiap kemasan/bakul berisi 2 (Dua) kilogram beras ketan hitam dan per kemasan dijual dengan harga seratus lima puluh ribu rupiah (Rp. 150.000). Dengan kemasan anyaman, konsumen dapat memanfatkan kembali wadah/bakul tersebut untuk digunakan di rumah tangga.

Kadita Metung (Beras Ketan Hitam)

Padi ketan hitam/Kadita Metung Produksi kelompok tani Kambu Reti telah dipasarkan dan keuntungannya untuk mendukung eksistensi kelompok tani terutama aktivitas-aktivitas kelompok tani dalam produksi pangan lokal dapat berlanjut, selain padi ketan hitam mungkin juga akan dikembangkan pangan-pangan lokal lain yang sudah lama ditinggalkan atau hampir punah, seperti kacang-kacangan, dan umbi-umbian lainnya.

Produksi produk saat ini masih berfokus pada budidaya padi ketan hitam/kadita metung, diharapkan  pengembangan dan budidaya pangan lokal yang lain juga dapat dilakukan kedepan. Kami bersyukur dapat membudidayakan kembali padi ketan hitam/Kadita Metung ini.  Kelompok tani Kambureti juga bekerja sama dengan kelompok-kelompok tani yang lain untuk belajar pembuatan pupuk organik yang murah dan dapat kami manfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, tentu kami meminta dukungan Walhi NTT”  Ketua Kelompok Tani Kambu Reti, Umbu Kapida Maling.

Kelompok tani Desa Persiapan Pindu Wangga Wundu adalah kelompok dampingan WALHI NTT sejak Oktober 2018 hingga saat ini. Pendampingan dalam proses produksi Padi Ketan hitam bersama kelompok ini dimulai dari tahap persiapan lahan, persemaian, masa pemeliharaan, produksi dan Packaging produk.

Selain melakukan aktivitas dampingan di bidang pertanian, WALHI NTT juga melakukan kegiatan-kegiatan di komunitas seperti sosialisasi hak masyarakat adat, sosialisasi kesetaraan gender, sosialisasi dampak pembakaran hutan dan lahan, sosialisasi perubahan iklim dan banyak kegiatan-kegiatan  lain yang mendukung eksistensi masyarakat adat dan  petani di Desa Persiapan Pindu Wangga Wundut.

Saat ini WALHI NTT tengah gencar melakukan pendampingan dan pelatihan pembuatan pupuk organik ramah lingkungan guna menjawab ketergantungan petani terhadap pestisida yang sangat mahal dan berdampak buruk pada kesuburan tanah pertanian warga.

Kelompok tani di Desa Pindu Wangga Wundut saat ini menggunakan pestisida sebagai satu-satunya cara dalam penyuburan tanaman padi dan obat hama, pada saat pupuk pestisida tidak terjangkau karena harganya yang cukup tinggi dan tidak tersedia maka petani sangat berdampak dari produksi yang sangat menurun bahkan terjadi gagal panen.

Produksi padi lokal ketan hitam/kadita metung  ini merupakan  bentuk dukungan WALHI NTT  terhadap eksistensi  Wilayah Kelola Rakyat (WKR) dan masyarakat petani untuk kembali mempertahankan pangan lokal yang tahan terhadap krisis iklim di Pulau Sumba. Harapannya, pangan-pangan lokal yang sudah lama ditinggal dikembangkan kembali guna menciptakan keseragaman pangan di masyarakat. Selain itu, keberadaan pangan lokal ini dapat berfungsi untuk mencegah kelaparan dan gizi buruk, apa lagi dengan wabah Covid-19 yang mengancam ketersedian pangan warga. Pemerintah daerah Sumba Timur harus mengutamakan keselamatan rakyat dan Wilayah Kelolanya, selain itu dinas pertanian juga harus memberikan edukasi pada masyarakat  dalam melakukan pengelolaan pertanian organik yang ramah lingkungan” Ucap Kepala Divisi Wilayah Kelola Rakyat WALHI NTT, Petrus Ndamung

WALHI NTT mendukung pemerintah daerah di NTT membangun sebuah sistem pertanian rakyat secara berkelanjutan dengan memperhatikan Tata Kuasa, Tata Kelola, Tata Produksi dan Tata Konsumsi rakyat yang adil. Tata Kuasa berkaitan dengan pengakuan kepememilikikan tanah oleh rakyat yang berpotensi dapat mengembangkan usaha pertanian. Tata Kelola, berkaitan dengan pemberian edukasi yang baik mengenai pemanfaatan ruang dan pengelolaan pertanian modern ramah lingkungan kepada masyarakat. Tata Produksi kaitannya dengan usaha produksi sandang, pangan, papan rakyat dan relasi produsen dan konsumen. Sementara Tata Konsumsi menitik beratkan pada pola konsumsi rakyat dan mengatur distribusi produk ke luar yang memberikan nilai tambah masyarakat sebagai produsen.

Jika sistem ini terbangun dan berkesinambungan maka petani akan jauh lebih baik, dan sikap ketergantungan rakyat terhadap bantuan-bantuan pemerintah itu pelan-pelan akan berakhir.

Narahubung

Umbu Tamu Ridi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *