
Diskusi Mingguan: Mengusut Kasus Tambak Garam Oleh PT.Inti Daya Kencana (IDK) di Kabupaten Malaka
Februari 27, 2023
Proyek Geothermal dan Perempuan Poco Leok yang Melawan
Maret 8, 2023Tahukah kita bahwa 82 persen anak Indonesia khawatir masalah perubahan iklim di Tanah Air.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan responden yang terdiri dari kaum muda menganggap bahwa fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan.
Sampel responden berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional dan mewakili lebih dari 80 juta penduduk pada pemilu 2024. Berdasarkan survei tersebut terungkap bahwa mayoritas yaitu sebanyak 82 persen responden anak muda di Indonesia mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85 persen responden menyebutkan, korupsi merupakan isu pertama yang paling mereka khawatirkan. Sebelumnya diikuti dengan kekhawatiran kerusakan lingkungan sebanyak 82 persen responden.
Responden meyakini, masalah serius dampak perubahan iklim sudah tergambar jelas dalam sejumlah peristiwa yang terjadi sekarang dibanding lima tahun lalu. Responden setuju bahwa cuaca yang lebih panas pada musim kemarau adalah dampak yang paling dirasakan, diikuti perubahan cuaca mendadak 60 persen, dan 35 persen hujan serta banjir yang lebih sering terjadi.
Dalam survei tersebut juga terungkap faktor penyebab perubahan iklim di Indonesia yaitu penggundulan hutan (deforestasi) sebagai factor terbesar. Kemudian sumber gas rumah kaca seperti gas buang sector transportasi dan PLTU batu bara serta pertambangan termasuk dalam 10 besar penyebab perubahan iklim.
Dampak dari perubahan iklim yang telah dirasakan tersebut, menurut 53 responden, telah mendatangkan kerugian bagi warga Indonesia.
Kenapa anak-anak muda begitu resah dengan krisis iklim?
Di antara jawabannya, karena pada masa yang akan datang, mereka akan mewarisi bumi yang rusak akibat pembangunan yang dipilih oleh generasi saat ini yang memegang kepemimpinan politik, baik di tingkat global maupun nasional.
Dengan demikian, pilihan pembangunan dan pengelolaan terhadap beragam sumber daya alam oleh generasi saat ini, akan memberikan dampak yang sangat panjang dan luas bagi generasi masa depan. Daya dukung dan daya tampung planet bumi sangat penting dipertimbangkan tak hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Inilah yang dinamakan dengan keadilan antargenerasi.
Keadilan antargenerasi, paling tidak, mengandung dua makna berikut, yaitu: pertama, setiap generasi mewarisi sumber-sumber alam dan habitat yang berkualitas dan mewariskannya pula pada generasi selanjutnya sehingga generasi ini memiliki kesempatan yang setara dalam kualitas fisik, ekologi, ekonomi dan sosial; dan kedua, generasi kini tidak boleh mewariskan generasi selanjutnya sumber-sumber alam yang tidak dapat diperbarui.
Apa saran anak muda tentang krisis iklim di Indonesia ?
Mayoritas responden menyatakan semua pihak harus bertanggungjawab dalam mengurangi dampak perubahan iklim, dan menitikberatkan pada peran pemerintah untuk mendorong upaya mengatasi persoalan perubahan iklim.
Pemerintah disebut harus berinvestasi mengembangkan sumber energi terbarukan seperti angin, dan surya, karena lebih bersih ketimbang batu bara. Mayoritas responden juga setuju bahwa untuk mengatasi perubahan iklim, emisi dan industri dan perusahaan yang memproduksi bahan bakar fossil harus dikurangi.
Dari berbagai Gerakan dan persepsi anak muda Indonesia sebenarnya sudah ada berbagai tawaran solusi yang diberikan kepada pemerintah dan politis untuk mengambil jalan pembangunan yang ramah lingkungan. Seperti kebijakan pembangunan industry pariwisata premium di pulau Komodo yang begitu viral terkait dengan perubahan ekosistem Komodo menjadi wisata premium. Laporan IUNCN terbaru mengemukakan perubahan iklim mengancam kehidupan Komodo, meningkatnya suhu global dan permukaan laut yang lebih tinggi akan mengurangi habitat Komodo. Setidaknya 30 persen dalam 45 tahun ke depan.
Laporan IUNCN memberi pesan utama bahwa hilangnya spesies dan perusakan ekosistem merupakan ancaman eksistensial yang tidak kalah penting dengan pemanasan global. Pada saat yang sama, perubahan iklim sendiri memberikan bayangan yang lebih gelap dari pada sebelumnya pada masa depan spesies, terutama hewan dan tumbuhan endemik yang hidup secara unik di pulau-pulau kecil atau di titik-titik keanekaragaman hayati tertentu.
Krisis yang sedang kita hadapi saat ini adalah awal membawa orang-orang muda ke dalam percakapan. Menciptakan masa depan yang yang kita semua inginkan membutuhkan generasiu yang lebih tua dan yang lebih muda untuk bekerjasama untuk peruabahan yang kita butuhkan. Orang-orang muda ingin berperan untuk ambil bagian. Orang tua yang memegang tampuk kekuasaan politik, ekonomi dan itelektual saat ini harus mendengarkan suara-suara perubahan ini. Mendukung gagasan dan inovasi baru dan memikirkan Kembali asumsi cara dunia bekerja, karena dunia tidak akan menjadi milik kita selamanya.
Inilah mengapa keadilan iklim antar generasi terus disuarakan agar perubahan terwujud dengan baik tanpa harus mengorbankan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Greta Thunberg, menggerakkan poros muda dunia untuk menyerukan kepada dunia bahwa perubahan iklim sedang terjadi. Ada banyak suara orang muda di seluruh dunia yang bekerja untuk menciptakan masa depan yang mereka butuhkan. Kita generasi yang lebih tua harus melihat kepada remaja untuk inspirasi, inovasi, motivasi dan keberanian.
“kami menyadari bahwa kami sedang berjuang untuk menyelamatkan umat manusia dari kepunahan, dan kami membutuhkan pembuat kebijakan di planet ini untuk secara kolektif menyadari hal ini juga. Di sinilah, iklim berubah.” Lauren Howland
****





