
Proyek Geothermal dan Perempuan Poco Leok yang Melawan
Maret 8, 2023
WALHI NTT : PENERBITAN IZIN PENGELOLAAN HASIL SEDIMENTASI DI LAUT TIDAK MELIHAT KONSEKUENSI EKOLOGI
Mei 30, 2023Hutan juga menjadi tempat perempuan primitif untuk menemukan tungku dan api sebagai alat pembakaran untuk memasak. Kegiatan kerja yang dilakukan oleh perempuan dalam menghasilkan api, dibutuhkan untuk teknik dasar memasak, membakar, merebus, memanggang, mengoven, dan juga untuk mengawetkan persediaan sayuran, ikan dan makanan hewani untuk penggunaan di masa depan.
Selain itu, hutan juga menjadi ruang laboratorium ilmiah perempuan yang menjadikan mereka spesialis dalam pengetahuan botani yakni mengembangkan hasil hutan untuk pembuatan obat tradisional.
Brifffault dalam bukunya The Mothers, Vol. I.hlm 486) menjelaskan, kata obat berasal dari akar kata pengetahuan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan perempuan bijak. Dalam hal ini, hutan menjadikan perempuan pra sejarah sebagai tabib. Sebab di hutan perempuan primitif menemukan cara mengekstrak, menyiapkan dan menggunakan berbagai macam tanaman tradisional yang bisa diolah menjadi obat ampuh dan juga penawar racun.
Selain itu, di hutan, perempuan primitif juga menemukan pengetahuan teknik pembuatan dan penganyaman tali temali untuk kebutuhan pakaian.Dalam tahapan ini, perempuan pra sejarah tak hanya berkreativitas untuk melakukan kerja-kerja keterampilan tangan, tetapi juga tentang pengetahuan memilih, merawat dan merekayasa bahan yang digunakan.
Perempuan primitif, juga membangun rumah untuk menyimpan makanan yang kita kenal sebagai lumbung.
Menurut Evelyn Reed, pada masyarakat primitif, rumah untuk menyimpan makanan sudah ada jauh sebelum rumah tempat tinggal. Perempuan membuat berbagai jenis peti dari tanaman di hutan untuk menyimpan makanan hasil olahan mereka di alam. Beberapa lumbung dan tempat menyembunyikan makanan justru digali di dalam tanah dan dilapisi jerami. Beberapa cerita tersebut di awal, menjelaskan bahwa hutan telah menjadi ruang aman bagi perempuan pra sejarah dalam membangun pikiran dalam menciptakan peradaban.
Dari cerita peradaban perempuan yang dibangun di hutan ini, kita juga bisa melihat bahwa sejatinya hutan adalah rumah bagi perempuan sebagai penghasil utama kebutuhan hidup dan tempat perempuan melakukan kerja-kerja sosial. Kisah peradaban produktivitas perempuan primitif ini menghantarkan saya pada pengalaman bertemu dengan perempuan-perempuan NTT yang begitu lekat kehidupannya dengan hutan. Misalnya perempuan Boti.
Bagi perempuan Suku Boti, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, hutan menjadi begitu lekat dengan kehidupan perempuan mereka. Sebab di Hutan, perempuan Boti bisa mendapat pewarna alamiah dari berbagai jenis pohon untuk pembuatan kain tenun.
Hutan juga menjadi sumber tanaman obat tradisional bagi masyarakat. Saat sakit mereka jarang ke rumah sakit. Mereka lebih sering masuk ke hutan dan menemukan obat yang tepat bagi penyakit mereka.
Selain fungsi hutan yang digunakan sebagai sumber produktivitas, di Boti, masyarakat Boti masih menggunakan hutan sebagai tempat untuk menjalankan ritual adat yang mereka percayai demi menjaga hubungan kedekatan antara masyarakat Suku Boti dengan alam.
Bagi Masyarakat di Pulau Timor pada umumnya, hutan juga menjadi penopang ekonomi keluarga. Sebab di beberapa jenis pohon yang ada di Pulau Timor, menjadi penghasil madu terbaik.
Tidak hanya di Timor, perempuan-perempuan di Adonara, menggunakan beberapa jenis tanaman yang tumbuh liar di hutan sebagai ramuan dan obat untuk pemulihan pasca melahirkan. Selebihnya, bagi perempuan dalam budaya Lamaholot juga menggunakan hasil hutan sebagai pewarna alamiah bagi tenun mereka.





