JAGA KARST; JAGA KEHIDUPAN – BAHAN BACAAN WAHANA LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA

WALHI Desak Pemerintah hentikan Ekspansi Investasi yang hancurkan bentang alam BANUSRAMAPA
April 29, 2022

JAGA KARST; JAGA KEHIDUPAN – BAHAN BACAAN WAHANA LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA

JAGA KARST; JAGA KEHIDUPAN

 

Memahami Karst dan Fungsinya

Perhatian publik terhadap Karst dalam dua tahun terakhir meningkat, hal tersebut dipicu pemberitaan perjuangan masyarakat Pegunungan Kendeng terhadap industri ekstraktif PT Semen Indonesia yang mengancam lingkungannya, publik menjadi terbiasa dengan istilah-istilah yang terkait pada kasus tersebut, seperti KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst), KLHS (kajian Lingkungan Hidup Strategis), CAT (Cekungan Air tanah), dsb. Dari sisi kebijakan, meski telah ada upaya perlindungan, namun hal tersebut tidak sebanding dengan laju Industri ekstraktif di Indonesia.

Pesona Gua Kristal- Kawasan Karts Desa Bolok-Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur

Kawasan Karst merupakan ekosistem yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batu kapur/batu gamping) yang mengalami proses pelarutan sedemikian rupa hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas. Dari sisi kebijakan negara, Karst masih dipandang sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi sepenuhnya, hal tersebut terlihat pada penetapan KBAK yang wewenangnya justru di Kementerian ESDM melalui usulan pemerintah daerah. Pada akhirnya perlindungan dan penetapan kawasan karst hanya dilihat dari sisi administratif.

 

 

Kawasan ekosistem karst saat ini memiliki ancaman dari industri semen, batu gamping dan kapur sebagai komponen utama karst merupakan bahan baku utama Indusri Semen. Limestone/ Calcium Carbonate ( CaCO3) atau yang biasa dikenal awam sebagai batu gamping menjadi komposisi penting dalam pembuatan semen, mencapai 49%-55% dalam tiap komposisinya.

 

Memahami Jasa Lingkungan, daya dukung serta daya tampung sebuah ekosistem, tidak bisa dilihat secara parsial, harus utuh. Setidaknya melihat sumbangsih dan dampak perubahan sebuah ekosistem terhadap lingkungan, valuasi ekonomi, serta sosial budaya.

 

Penyangga Kebutuhan Air

Selama ini Karst telah diketahui sebagai penampung air, sayangnya sedikit yang mau menghitung nilai valuasi ekonominya. Sebagai contoh nilai valuasi ekonomi air di kawasan Karst Maros Pangkep, Sulawesi Selatan (yang terancam oleh Industri Semen dan Marmer), berdasar nilai air baku PDAM mencapai Rp. 406.579.689.900, -pertahun. Di Cekungan Air Tanah Watu Putih pada pegunungan Kendeng yang saat ini terancam industri semen, suplai air mencapai 51 juta liter air atau setara dengan 86,7 Juta rupiah perhari. Bahkan negara seperti Cina 30% kebutuhan airnya terpenuhi dari ekosistem Karst, Slovenia dan Austria Separuh kebutuhan airnya dipenuhi ekosistem Karst.

 

Kawasan karst berfungsi sebagai penyimpan air alami, ekosistem yang terbentuk selama jutaan tahun ini tidak akan bisa dipulihkan seratus persen jika sudah rusak oleh industri ekstraktif. Ekosistem karst alami memiliki daya serap air hingga 54 mm per-jam, sedangkan daya serap karst pada bekas tambang yang sudah direklamasi mencapai 14 mm per-jam atau hanya 25 persen dari kemampuan daya serap alami. Tanpa direklamasi maka bekas kawasan tambang pada ekosistem Karst hanya memiliki daya serap air sebesar 1 mm per-jamnya.

 

Menjaga keseimbangan Iklim

Karst berfungsi sebagai penyeimbang siklus karbon yang berfungsi mengurangi efek rumah kaca dan pemanasan global. Proses pelarutan pada karst berfungsi menyerap karbon. Sebagai contoh Karst Gunung Sewu diestimasi menyerap 72.804,16 ton karbondioksida/tahun. Secara global Dalam satu tahun Kawasan Bentang Alam Karst rata-rata menyerap Co2 sebanyak 0.11 miliar metrik ton.

 

Perubahan iklim sangat berpengaruh pada pertanian, yang artinya juga berdampak pada kedaulatan pangan, pada 2015 IFAD menghitung produksi pertanian Indonesia turun 21% akibat perubahan iklim. Analisis mengenai dampak perubahan iklim terhadap produksi padi di Jawa saja, menunjukkan bahwa produksi padi pada tahun 2025 dan 2050, masing-masing akan berkurang sebesar 1,8 juta ton dan 3,6 juta ton dibandingkan tingkat produksi padi saat ini.

 

Pada sisi lain Industri semen justru dicatat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai penyumbang emisi karbon terbesar mencapai 48% (Laporan Investigasi Gas Rumah Kaca KLHK, 2014).  Pada sisi lain China justru menutup banyak Industri semennya –atau lebih tepatnya memindahkan ke luar negeri- setelah menyadari industri semen menaikkan emisi CO2 dari 57% pada tahun 1994 menjadi 72% pada tahun 2005 (SDRC 2004 & NDRC 2012). Pada saat yang bersamaan Kementerian Perlindungan Lingkungan Cina berencana mengurangi produksi semen hingga 37 Juta ton pada 2015.

 

Industri Semen berpotensi sebagai penyumbang pencemaran udara terbesar, karena memproduksi Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen oksida (Nox), Karbon Monoksida (CO), serta debu dan Karbon Dioksida (CO2) sebagai penyumbang polusi terbesarnya.

 

Valuasi Sosial-Ekonomi Ekosistem Karst

Problem mendasar memandang ekosistem ialah cara pandang yang parsial, ekosistem karst hanya dipandang sebagai komoditas dan terbatas pada batas-batas administratif penetapan KBAK. Cara pandang demikian menyebabkan penghitungan valuasi (penetapan nilai) ekonomi sebuah ekosistem tidak dibaca menyeluruh, baik sumbangsihnya bagi masyarakat sekitar maupun dampaknya yang luas. Karst sebagai ekosistem tentunya tidak terbatasi oleh batas-batas administratif kewilayahan ataupun penetapan kawasan tertentu, maka menjadi naif jika kebijakan hanya dibatasi batas-batas administratif.

 

Banyak pihak mengabaikan bahwa ekosistem Karst memiliki peran penting dalam kedaulatan pangan,  dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada kawasan Cekungan Air Tanah Watu Putih di Kabupaten Rembang, sebagian besar kelelawar yang ditemukan merupakan pemakan serangga yang berperan dalam pengendalian hama pertanian, dengan daya jangkau antara 5-10 km (setara dengan 15.443 Ha.) Jika perannya digantikan oleh pestisida, maka setidaknya akan ada penambahan biaya pestisida dalam setahun senilai Rp 8.791.000.000. Hal tersebut belum mempertimbangkan dampak dan biaya kesehatan yang keluar karena penggunaan pestisida, serta penurunan hasil panen karena kehilangan penyerbuk alami dari kelelawar. Harusnya hal ini menjadi pertimbangan utama, mengingat berdasar estimasi output ekonomi KLHS I, sektor pertanian Kab. Rembang menyumbang 22,5% dari keseluruhan output ekonomi.

 

Dari sisi ekonomi-sosial, pengelolaan wilayah karst sebagai ekowisata oleh masyarakat langsung memberikan nilai ekonomi yang tidak kecil, di Maros Pangkep, Sulawesi-Selatan pada tahun 2016 saja terjadi perputaran uang hingga Rp. 6.522.000.000 yang langsung dinikmati oleh masyarakat sekitar, dengan jumlah pengunjung 43.480 orang/tahun. Dalam konteks ini penting tetap memperhatikan daya dukung lingkungannya, pun begitu bandingkan dengan target pemerintah Cina di Hutan Batu Yunan dengan rata-rata kunjungan 2 juta orang yang pada 2020 menargetkan pemasukan hingga 10 Juta Yuan (kurang lebih 20 miliar rupiah).

 

Meski dengan nilai valuasi ekonomi yang sangat besar, serta berdampak pada kelangsungan penghidupan banyak orang, tetap saja ada upaya memberikan jalan lebih besar pada industri ekstraktif khususnya semen, tanpa mempertimbangkan bahwa produksi semen telah jauh melampaui kebutuhan, perhitungan Kementerian Perindustrian produksi semen pada 2017 akan mencapai 102 juta ton dari total kebutuhan 70 Juta ton.

 

Pada dasarnya, banyak pilihan diluar Industri ekstraktif, bukan hanya memberikan nilai ekonomi lebih pada jangka panjang, namun juga memberi pengakuan pada Wilayah Kelola Rakyat dalam pengelolaan ekosistem karst. Karst tidak harus dipandang sebagai obyek komoditas saja, ekosistem karst harus juga dipandang dari sisi non-ekstraktif : ada ekowisata (morfologi, gua, budaya), ekonomi (air, sarang burung, kuliner, pertanian, perkebunan, dll), Lingkungan (keanekaragaman hayati, produksi O2, reduksi CO2).

 

Upaya Perlindungan

Upaya perlindungan ekosistem Karst terus dilakukan oleh WALHI baik pada tingkat advokasi kebijakan maupun di tapak. Upaya advokasi kebijakan mendorong lahirnya kebijakan perlindungan bagi ekosistem esensial, upaya aktif melakukan gugatan pada kebijakan dan industri ekstraktif yang menyebabkan kerusakan lingkungan, desakan pemulihan kawasan ekosistem esensial, maupun upaya mereview  izin industri ekstraktif pada kawasan ekosistem esensial.

 

Pada tingkat tapak, mendorong pengelolaan Wilayah Kelola Rakyat pada kawasan Ekosistem Karst secara ekologis juga menjadi sama pentingnya. Pengelolaan kolektif oleh rakyat memiliki tanggung jawab lebih besar sebab secara langsung juga berdampak pada kehidupan dan penghidupannya.

 

JagaKarst_JagaKehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *