
Gelar Pertemuan Antar Suku, Warga Adat Lingkar Mutis Tegaskan Tetap Menolak Status Taman Nasional: ‘Perjuangan Kami Belum Berakhir’
Maret 5, 2025
WALHI NTT Mengadukan 6 Kasus Kejahatan Lingkungan ke Kejaksaan Agung
Maret 9, 2025WALHI NTT dan Green Justice Indonesia kembali meluncurkan kebun bibit di Sumba Barat Daya sebagai langkah nyata dalam pemulihan ekosistem dan pelestarian warisan budaya.

WALHI NTT, Sumba Barat Daya, 24 Februari 2025 – Gerakan pemulihan ekosistem cendana di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan oleh WALHI NTT bersama Green Justice Indonesia. Kegiatan ini telah dimulai sejak awal 2021. Pada 24 Februari 2025, WALHI NTT dan Green Justice Indonesia kembali meluncurkan Kebun Bibit Cendana Kelompok Embun Pagi di Desa Ekapata, Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya, serta pembagian bibit cendana kepada masyarakat di Desa Ekapata. Kurang lebih ada 26 ribu bibit yang berhasil dibudidayakan di kebun bibit ini.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan WALHI NTT, Direktur WALHI NTT, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi dan Yuvensius Stefanus Nonga, perwakilan Green Justice Indonesia Panut Hadisiswoyo, Mustakim Malik, Dana P. Tarigan, serta perwakilan Pemerintah Sumba Barat Daya, Kepala Bidang di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumba Barat Daya, Yohanes Djoe.
Dalam sambutannya, Direktur WALHI NTT menyampaikan bahwa cendana adalah simbol kesejukan dan keteduhan bagi masyarakat Sumba. Sejak dahulu, pohon ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi, budaya, maupun spiritual. Namun, kita juga tahu bahwa keberadaannya semakin langka. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mulai dari eksploitasi yang tidak terkendali, kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat adat, hingga perubahan lingkungan yang semakin mengancam keberlangsungan cendana di NTT.

Saya ingin menegaskan bahwa kita tidak bisa hanya menanam cendana tanpa melihat aspek kebijakan yang mengatur pemanfaatannya. Ada persoalan struktural yang harus kita hadapi bersama, di mana masyarakat adat yang selama ini menjaga cendana justru sering kali kehilangan hak atas pohon yang mereka rawat. Ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keadilan.
Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat kembali bagaimana kita memandang cendana. Apakah kita hanya melihatnya sebagai komoditas ekonomi semata, atau kita melihatnya sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat? Jika kita ingin menyelamatkan cendana, kita harus memastikan bahwa masyarakat yang selama ini menjaga pohon ini tetap memiliki hak atas tanah dan pohon mereka sendiri. (tutup Umbu).
Selanjutnya, Panut Hadisiwoyo dari Green Justice Indonesia menyampaikan bahwa cendana bukan hanya sekadar pohon. Ia memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan budaya yang luar biasa bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Sumba. Cendana telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama berabad-abad, dan keberadaannya memiliki arti yang mendalam bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Namun, kita juga menyadari bahwa dalam beberapa dekade terakhir, populasi cendana mengalami penurunan yang sangat drastis. Penyebabnya beragam, mulai dari eksploitasi berlebihan, perubahan tata guna lahan, hingga kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung upaya pelestarian cendana secara berkelanjutan. Jika kita tidak bertindak sekarang, bukan tidak mungkin cendana akan menjadi semakin langka dan sulit ditemukan di masa mendatang.
Sebagai perwakilan dari Green Justice Indonesia, kami sangat mendukung segala bentuk inisiatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan cendana. Kami percaya bahwa pelestarian cendana bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi lingkungan, tetapi juga tanggung jawab kita semua, termasuk masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga utama dari pohon ini.

Sementara itu, Yohanes Djoe, mewakili Pemerintah Sumba Barat Daya, menyampaikan apresiasi atas upaya pemulihan ekosistem cendana ini. Pemerintah SBD mendukung penuh upaya pemulihan ekosistem cendana di wilayah tersebut. Ini adalah sejarah yang diulang kembali tentang budidaya tanaman cendana, khususnya untuk masyarakat. Kita tahu bahwa cendana memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun lebih dari itu, ia adalah bagian dari identitas dan budaya kita. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa upaya pelestarian dan penanaman kembali dilakukan dengan baik. Harapan kami, program ini bisa berjalan secara berkelanjutan dan membawa manfaat bagi masyarakat setempat dan Sumba pada umumnya.

Di akhir acara ini, Antonius Sutapote, Ketua Kelompok Embun Pagi, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, mensponsori, atau melakukan pembibitan cendana di wilayah Wewewa Tengah, khususnya di Desa Ekapata. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Proses ini tidak mudah, tetapi dengan kerja sama yang baik, kami telah berhasil menanam sejumlah besar bibit cendana. Kami berharap bibit ini dapat tumbuh dengan baik, karena cendana bukan hanya pohon biasa, tetapi juga warisan bagi anak cucu kita.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta melakukan penanaman anakan cendana di lokasi yang telah disediakan oleh komunitas Embun Pagi. Sekitar 50 anakan ditanam sebagai tanda komitmen komunitas, WALHI NTT, Green Justice Indonesia, dan Pemerintah Sumba Barat Daya dalam melestarikan cendana di tanah Sumba.





Penanggung Jawab Rilis: Yuvensius Stefanus Nonga (Kepala Divisi Advokasi WALHI NTT / 082228882044)





