
GSM: Pendidikan Dasar Lingkungan Hidup Guna Mencetak Kader Muda Pejuang Ekologi
Juni 14, 2023
Mama Yustina Kosat; Perempuan di Kaki Mutis
Juni 22, 2023
PP
Kupang, – Komunitas Shalam NTT mengadakan kelas pertama edukasi hijau di Lab WALHI di Baumata (27/06/23). Remigius Nong menjadi instruktur yang memberikan pelatihan pembuatan perangsang buah dan ekoenzim.
Shalam adalah singkatan dari Sahabat Alam. Komunitas yang sudah ada sejak 2016 ini merupakan bagian dari WALHI NTT. Adapun komunitas saat ini merupakan angkatan yang keempat, yang dibentuk pada awal Juni lalu .
Komunitas Shalam memiliki dua tugas utama yakni konservasi dan kampanye. Kelas pertama edukasi hijau ini merupakan bagian dari bidang kampanye.
Kelas edukasi hijau ini terbagi atas dua sesi. Pada sesi pertama Remigius menjelaskan pembuatan perangsang buah dan bunga dari olahan sekam padi. Ia menunjukkan proses instalasi pengolah yang membakar dan menyuling sekam padi menjadi produk cairan.
Produk cairan yang dihasilkan namanya perangsang bunga dan buah. Produk ini bisa diaplikasikan pada tanaman di kebun.
“Produk ini sudah saya sudah terapkan pada cabai dan pohon kakao. Alhasil buah yang dipanen sangat melimpah” ungkap Remigius pegiat konservasi lingkungan.
Pada sesi kedua ia memberikan edukasi pembuatan ekoenzim dari limbah organik dapur. Semua sampah hijau seperti potongan sayur dan buah, sisa makanan, air cucian beras, dan sebagainya digabungkan dalam ember matex. Lalu, dicampur cairan EM4 untuk proses fermentasi hingga menghasilkan ekoenzim yang berguna sebagai pupuk alami bagi tanaman.
Para anggota Shalam mengikuti setiap sesi dengan penuh antusias. Suasana kelas berlangsung dinamis lewat tanya jawab antara para anggota dan instruktur.
Di akhir sesi, Remigius mengungkapkan betapa dirinya bersemangat bisa berbagi ilmu bersama teman-teman Komunitas Shalam. Ia mengharapkan agar ilmu ini berguna tidak hanya bagi anggota komunitas tetapi juga bagi alam dan sesama.
Jordan Atama salah seorang anggota Shalam NTT merasa sangat senang mengikuti kelas ini. “Saya bisa belajar ilmu baru. Tentu ini menjadi bekal berguna bagi saya dan teman-teman sekomunitas”.
Cosmas Davitson selaku Ketua Komunitas Shalam NTT amat berterima kasih atas kesediaan Remigius memberikan pelatihan ini. Cosmas juga mengapresiasi terlaksananya kelas perdana ini sebagai wujud dari penguatan kapasitas para anggota komunitas. Ia berharap agar para anggota bisa melakukan pengolahan limbah dapur di rumah masing-masing.
“Dengan kelas ini teman-teman mampu meningkatkan kapasitas diri demi menjadi pionir di tengah masyarakat. Tentunya ke depan kelas-kelas seperti ini akan terus dilaksanakan oleh Komunitas Shalam NTT” ungkap Cosmas. (YB)





