
“POHON CENDANA” oleh Rambu Ata Lena , Kelas X-8 SMA N 3 Waingapu
Juli 24, 2025
Suara dari Pulau Sumba, Walhi: Ubah Total UU Kehutanan dan Segera Sahkan UU Masyarakat Adat
September 1, 2025Rilis Kegiatan: Kemah Rohani Sosial-Ekologis JPIC bersama WALHI NTT
“Sejauh Mana Arah Gerakan Kita?”
Tanjung Toda, Sulamu – 25–27 Juli 2025

Di tengah kemelut kebangsaan dan sosial-ekologis yang menyelimuti Indonesia hari ini—mulai dari krisis ekonomi, carut-marutnya kebijakan politik, hingga arus migrasi yang menyuburkan praktik perdagangan orang—masyarakat sipil tetap menunjukkan tanda-tanda harapan. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), ketimpangan sosial dan krisis struktural seperti perdagangan orang, kemiskinan, serta perampasan ruang hidup tak kunjung padam. Namun dari sana juga tumbuh semangat konsolidasi dan solidaritas lintas isu.
WALHI NTT bersama Lembaga JPIC dan berbagai mitra gerakan masyarakat sipil menyelenggarakan kegiatan “Kemah Rohani-Sosial-Ekologis” di Tanjung Toda, Sulamu. Kegiatan ini menjadi ruang kontemplatif dan strategis selama tiga hari (25–27 Juli 2025), yang mempertemukan para aktivis muda dari berbagai sektor sosial dan lingkungan hidup untuk merefleksikan arah perjuangan gerakan mereka. Kegiatan dibuka dengan diskusi bersama Romo Leo Mali yang menekankan pentingnya kebahagiaan dan cinta terhadap pekerjaan sebagai inti dari tujuan hidup. Menurut Romo Leo, pekerjaan yang membawa manfaat bagi sesama adalah bagian dari spiritualitas dan keutuhan hidup manusia.

Pada hari kedua, para peserta mengikuti meditasi pagi untuk menyelami kesadaran
diri—sejauh mana tubuh ini bertahan dan melangkah dalam menghadapi guncangan
hidup.

Dilanjutkan dengan diskusi terbuka mengenai maraknya kasus perdagangan orang di NTT, para peserta membagikan pengalaman perjuangan mereka dalam advokasi, penanganan, serta tantangan struktural seperti minimnya edukasi, budaya patriarki, tekanan ekonomi, dan adat istiadat yang memaksa migrasi kerja ke luar negeri.
Malam harinya, di bawah cahaya api unggun, Mama Pendeta, Sr. Laurentina, dan para suster bergabung dalam sesi reflektif bersama Kak Rini yang membawakan materi tentang Laudato Si’—sebuah ensiklik Paus Fransiskus yang menjadi dasar spiritual dalam advokasi kemanusiaan dan pelestarian lingkungan. “Saudari kita, Ibu Pertiwi, kini menjerit karena kerusakan yang ditimpakan manusia,” demikian penggalan dari Laudato Si’ yang menggetarkan kesadaran kolektif para peserta.
Subuh sebelum mengakhiri kegiatan Bapak Herman Seran kemudian memfasilitasi perjalanan menyusuri Pantai Terra Rosa sambil menjelaskan kondisi geografis dan ekologi NTT, terutama tantangan sumber daya air yang timpang antara musim hujan dan kemarau.

Kegiatan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk memperkuat spiritualitas dan mempererat jejaring gerakan lintas sektor. Di tengah tantangan yang makin kompleks, para penggerak sosial perlu ruang untuk berhenti sejenak, merefleksikan arah gerak, dan merancang strategi yang kolaboratif dan berkeadilan. WALHI NTT percaya bahwa dengan kekuatan batin dan solidaritas, perjuangan panjang melawan ketidakadilan dapat terus bernyala.





