
PERS SEBAGAI UJUNG TOMBAK PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
Februari 9, 2023
Mendorong Keadilan Iklim di Indonesia
Februari 28, 2023KUPANG, 26 Februari 2023, konflik sumber daya alam dari tahun ke tahun tak kunjung usai, bahkan mengalami tren peningkatan jumlah kasus. Kesemuanya ini berangkat dari produk kebijakan pemerintah yang mengedepankan kepentingan ekonomi dengan mengabaikan seluruh prinsip pembangunan berkelanjutan. Pada Sabtu, 25 Februari mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Nusa Cendana Kupang menyelenggarakan diskusi publik dengan topik Mengusut Konflik Tambak Garam di Kabupaten Malaka.
Diskusi publik ini menghadirkan dua pembicara yakni perwakilan WALHI NTT, Deputi Direktur WALHI NTT Yuvensius Stefanus Nonga, S.H.,M.H. dan pembicara kedua dari Akademisi Fisip Undana, Bapak Yonatan H.L. Lopo S,IP. M,A. Peserta diskusi yang terlibat sebanyak 24 orang yang terdiri dari mahasiswa Undana Kupang dan beberapa merupakan mahasiswa Universitas Kanjuruan Malang.
Pembicara pertama dari WALHI NTT, Yuvensius Nonga menyampaikan, pembangunan tambak garam oleh PT.IDK di Kab. Malaka merupakan salah satu contoh pembangunan yang mengabaikan prinsip daya tampung dan daya dukung lingkungan. Sejak awal pembangunan, diwarnai dengan pengrusakan mangrove dan hutan kurang lebih seluas 242 hektar tanpa mengantongi ijin lingkungan, sementara proses uji AMDAL dilakukan pasca penggusuran hutan mangrove tersebut dan gelombang penolakan warga lokal. Padahal AMDAL merupakan salah satu syarat administrasi untuk diterbitkannya Ijin Lingkungan. Proyek ini sangat top down dan mengabaikan seluruh aspek sosial.
Sementara pembicara kedua, Bapak Yonatan menyampaikan, Kasus Tambak Garam Malaka dapat dijadikan sebagai salah satu pintu masuk untuk melihat seluruh skema kebijakan pembangunan baik secara nasional maupun lokal. Kebijakan ini masuk dalam kebijakan yang telah direncanakan oleh Pemerintah SBY sejak tahun 2008, kebijakan strategis nasional oleh SBY menetapkan koridor ekonomi nasional NTT dan bali sebagai koridor pembangunan pariwisata dan pangan. Ini lah kemudian lahir beberapa proyek pembangunan skala besar untuk melayani kepentingan pangan dan pariwisata, salah satunya bisnis hospitaliti untuk menjadikan pusat kuliner, ole-ole yang menghancurkan hutan bowosie 400 hektar di manggarai barat. Selain itu, pembanguan industri garam Malaka sebagai pendukung minyak dan gas (garam industri), ada sinyal tambak garam ada kaitan dengan blok Masela di maluku. Diangkut dari Wini ke blok Masela. Garam menjadi support sistem untuk industri lain. Garam perlu dilihat sebagai resort untuk eksploitasi alam yang lain.
Penanggung Jawab Rilis: Yuvensius Stefanus Nonga (Kepala Divisi Pengelolaan SDA dan Kampanye
Contact Person: (082340358799)





