WALHI NTT dan Mahasiswa Jurusan Sosietri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat STPM St.Ursula Ende bicara Ekologi

Jangan Lupa Jaga Ibu (BUMI)
October 5, 2020
Pemprov Tidak Gubris Rekomendasi Komnas HAM
October 15, 2020

WALHI NTT dan Mahasiswa Jurusan Sosietri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat STPM St.Ursula Ende bicara Ekologi

Jumat, 09 Oktober 2020 WALHI NTT dan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat St. Ursula jurusan Sosietri/ Pembangunan Sosial, melakukan diskusi melalui Aplikasi ZOOM. Fokus Diskusi berkaitan dengan catatan-catatan krisis ekologi di NTT sebagai buah dari perencanaan pembangunan yang tidak berbasis pada lingkungan. Dalam diskusi ini diikuti oleh 100 peserta yang adalah mahasiswa semester 3, 5, dan 7.

Diskusi berlangsung selama kurang lebih dua jam dengan pemantik diskusi oleh Saudara Yuvensius Stefanus Nonga, S.H., M.H selaku Kepala Devisi Sumber Daya Alam WALHI NTT. Diskusi ini dipandu oleh Bapak Patricius Marianus Botha yang adalah salah satu dosen di STPM St. Ursula Ende.

Dalam diskusi ini, Saudara Yuvensius menjelaskan beberapa permasalahan lingkungan yang terjadi di NTT. Menurutnya NTT saat ini tengah mengalami krisis sosial-ekologis. Krisis sosial berupa: Human Traficking; Kekerasan kriminalitas; Konsumerisme; Kesenjangan akses SDA; Ketidakadilan antar generasi, Selanjutnya Krisis Ekologi berupa: Alih Fungsi Kawasan Hutan; Kurangnya Komoditas SDA; Sampah; Privatisasi Pesisir; Rusaknya daya tampung dan daya dukung lingkungan; Perubahan Iklim; Privatisasi Air.

Lanjutnya, semua permasalahan lingkungan ini diakibatkan pola kebijakan dan pembangunan pemerintah tanpa melihat daya tampung dan daya dukung lingkungan NTT atau tidak berbasis pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Selain itu pembangunan berbasis investor tanpa didahului kajian mendalam berujung pada privatisasi sektor-sektor publik. Kalau dulu orangtua kita mengakses pesisir secara bebas, sekarang pesisir kita diprivatisasi. Di beberapa daerah ditemukan ada plang-plang larangan untuk memasuki kawadsan pesisir atau boleh masuk dengan membayar sejumlah uang.

Selain itu permasalahan sampah juga terjadi hampir di seluruh wilayah NTT bahkan Indonesia pada umumnya. Untuk memahami permasalahan sampah perlu melihat siklus peredaran sampah mulai dari hulu hingga hilir yakni mulai dari Eksploitasi SDA, Produksi, Distribusi, Konsumsi, Pembuangan. Selama ini penanganan sampah plastic sebatas pada ajakan membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah. Namun hal ini tidak dapat memastikan berkurangnya produksi sampah plastik. Pemerintah mestinya membuat kebijakan yang dapat memangkas peredaran sampah dari hulu hingga hilir misalnya: membuat kebijakan pembatasan eksploitasi SDA, Pembatasan masuknya produk-produk berbahan plastik yang masuk di wilayahnya; mengajak masyarakat untuk menggunakan bahan-bahan yang tidak sekali pakai misalnya tumbler, bawa keranjang belanja ketika ke pasar; pelarangan penggunaan kantung kresek di lipo atau took-toko.

Salah seorang perwakilan mahasiswa Saudara Silvester Dede juga menceritakan permasalahan lingkungan lain yang terjadi di Kabupaten Ende khususnya di kelurahan Paupire, onekore, kawasan kampus unflor yang sampai saat ini masuk dalam penetapan kawasan hutan lindung, menurutnya di daerah tersebut merupakan kawasan pemukiman. Oleh karena itu, hal ini butuh perhatian pemerintah untuk mengeluarkan status daerah ini dari kawasan hutan lindung.

Selanjutnya Bapak Patricius Marianus Botha selaku pemandu diskusi menyampaikan selama ini mahasiswa banyak terlibat dalam pendampingan masyarakat desa. Salah satu hal yang mereka akan lakukan ke depan adalah terkait pendidikan lingkungan bagi masyarakat misalnya peningkatan keatifitas masyarakat untuk memanfaatkan kondisi-kondisi lingkungan secara baik termasuk kesadaran akan masalah sampah.  Mengingat catatan-catatan beberapa mahasiswa yang melakukan KKN di beberapa dinas terkait di Kabupaten Ende, bahwa pengelolaan sampah terutama di Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) masih harus dibenahi. Oleh karena itu, STPM St. Ursula Ende akan memberikan sumbangsih pembangunan bagi pemerintah Ende berupa masukan-masukan secara ilmiah kepada pemerintah atau dinas terkait serta memberikan pendidikan dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat Ende terutama di wilayah-wilayah KKN dan dampingan STPM.

Akhir dari diskusi ini, Bapak Patricius Marianus Botha berharap diskusi bersama WALHI NTT akan terus berlanjut di kesempatan lainnya. Serta ke depan STPM St.Ursula melalui Bapak Patricius Marianus Botha akan membentuk komunitas mahasiswa peduli lingkungan dengan kegiatan-kegiatan kreatif yang dapat membantu masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *