Rilis WALHI NTT: Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih Sabu Raijua (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)

Rilis WALHI NTT : Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih Sumba Barat (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)
December 4, 2020
Pendidikan Sahabat Alam Hari Pertama
December 12, 2020

Rilis WALHI NTT: Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih Sabu Raijua (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)

Letak Kabupaten Sabu Raijua berada di bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Termasuk daerah terluar Indonesia. Luas Kabupaten Sabu Raijua adalah 460.47 Km2 yang terbagi atas 6 (enam) Kecamatan. Kecamatan yang terluas adalah Sabu Barat dengan luas wilayah 185.16 Km2 dan luasan yang tekecil adalah Kecamatan Sabu Timur dengan luas wilayah 37,21 Km. Kabupaten ini terdiri dari tiga buah pulau yakni Pulau Sabu, Pulau Raijua dan Pulau Dana.

Saat ini Sabu Raijua juga tengah menyelenggarakan Pilkada. Adapun Pilkada tersebut diikuti oleh tiga pasang calonn. Ketiga pasangan calon tersebut yakni pasangan Takem Raja Pono – Herman Hegi Radja Haba. Bakal pasangan calon yang lolos verifikasi melalui jalur perseorangan. Pasangan calon  Nikodemus Rihi Heke – Yohanis Uly Kale yang diusung Partai NasDem dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bakal pasangan calon Orient P. Riwu – Thobias Uly yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

Berikut pekerjaan rumah yang harus menjadi prioritas calon pemimpin Sabu Raijua Terpilih

1. Krisis Hutan

Krisis hutan juga menjadi PR serius bagi calon pemimpin terpilih di Sabu. WALHI NTT mencatat bahwa Kabupaten Sabu Raijua adalah kabupaten dengan luas Kawasan hutan dan tutupan hutan terendah di NTT. Tata Kelola hutan di Sabu juga masih sangat buruk salahsatunya lantaran tidak ada data Kawasan hutan yang benar. Misalnya belum ada tata batas Kawasan hutan lindung yang katanya seluas 7.523 Ha. Tantangan calon pemimpin terpilih di Sabu Raijua adalah memastikan kelsestarian dan perluasan Kawasan hutan serta hutan tutupan di Sabu Raijua. Memastikan bahwa tidak ada alihfungsi Kawasan hutan atas nama pembangunan mengingat krisis hutan yang dialami. Calon pemimpin terpilih harus memastikan 30 persen dari total luas daratan Sabu Raijua merupakan hutan tutupan kedepannya. Kebijakan untuk perluasan konservasi, rehabilitasi hutan menjadi PR yang tidak boleh diabaikan. Selain itu, Kabupaten Sabu Raijua juga menurut catatan WALHI NTT memilki tata kelola data kehutanan yang masih buruk, dan ini menjadi PR Calon pemimpin terpilih Sabu Raijua

2. Lahan kritis dan Krisis Pangan

Berdasarkan data dari website resmi Kabupaten Sabu Raijua, data lahan kritis 2015 di Kabupaten Sabu Raijua hanya 84, 074 hektar (dalam dan luar Kawasan hutan) dari total luas Sabu Raijua yakni 46.070  ribu hektar. Data ini, menurut WALHI NTT tidak sahih karena perkiraan WALHI NTT, lebih dari separuh Kabupaten Sabu Raijua. Hal ini terkait dengan Kabupaten Sabu Raijua yang mengalami proses penggurunan. Akibat dari kemarau Panjang dan minimnya curah hujan. Hal ini ditambah lagi dengan proses penambangan dan eksploitasi air tanah. PR calon pemimpin terpilih yakni yakni melakukan konservasi lahan kritis secara menyeluruh agar kelak berubah jadi lahan produktif untuk kepentingan ketahan dan kemandirian pangan. Sabu raijua juga masih bergelut dengn persoalan kerawanan pangan akibat kesulitan air, gagal tanam dan gagal panen. Sabu Raijua masih mengandalkan sector impor pangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Misalnya untuk kebutuhan beras. PR calon pemimpin terpilih di Sabu Raijua adalah mengurangi ketergantungan pada pangan luar seperti beras tapi menggenjot pangan lokal sebagai sumber pangan utama masyarakat.

3. Krisis air

 Krisis air di Sabu Raijua merupakan PR besar bagi calon pemimpin Sabu Raijua kedepannya. Sampai saat ini krisis air dalam skala besar masih terus melanda salhsatu kabupaten terluar Indonesia ini.  Hal ini makin menjadi jadi di musim kemarau. Bahkan pemenuhan air menggunakan mobil tangka pun tidak cukup karena memang keterbatasan sumber daya air. Air merupakan hak dasar yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. Oleh karena itu, calon pemimpin terpilih Sabu Raijua harus memprioritaskan masalah ini. Kedepannya, Konservasi air, perlindungan sumber sumber air, pencegahan privatisasi air harus menjadi prioritas utama. Calon pemimpin terpilih juga tidak memberikan ijin pada investasi investasi yang rakus dan merusak sumber daya air, seperti pertambangan skala besar. Calon pemimpin kedepan harus memastikan bahwa tidak ada lagi ribuan warga Sabu Raijua yang mengalami krisis air. Oleh karena itu hulu hilir pengelolaan air harus menjadi prioritas utama.

4. Perlindungan Masyarakat Adat

Ditengah hingar bingar pembangunan, masyarakat adat kerap terabaikan. Dalam konteks Kabupaten Sabu Raijua, masih begitu banyak komunitas masyarakat adat yang perlu diakui dan dilindungi hak haknya. Hal ini penting guna memastikan komunitas masyarakat adat tidak tergusur dari peradaban pembangunan di Sabu Raijua. Masyarakat adat jangan lagi hanya sekadar ajang eksploitasi untuk kepentingan ekonomi pariwisata. Calon pemimpin terpilih harus mengakui dan melindungi segala hak masyarakat adat termasuk tanah ulayat dan kebudayaan lainnya.  Mampukah, pemimpin terpilih Sabu Raijua pada 9 Desember 2020 memastikan ada perda untuk perlindungan masyarakat adat. Masyarakat adat di Kabupaten Sabu Raijua harus memastikan hal ini kedepannya.

5. PR Lingkungan Hidup dan Masyarakat adat lainnya

Calon pemimpin terpilih Sabu Raijua memiliki PR besar dalam urusan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup, perlindungan wilayah kelola rakyat dari upaya alih fungsi hingga perlindungan dan pengakuan sekaligus penguatan masyarakat adat di Sabu Raijua. Berikut beberapa catatan lainnya menurut WALHI NTT yang menjadi pekerjaan rumah calon pemimpin terpilih Sabu Raijua:

  1. Perlindungan pesisir dari penghancuran ekosistem
  2. Dampak perubahan iklim dan pemanasan global bagi pulau kecil
  3. Pemulihan daya dukung lingkungan terutama di ruang ruang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat
  4. Pembangunan ekonomi kerakyatan yang ramah lingkungan dan berkeadilan.
  5. Perlindungan wilayah Kelola petani dan nelayan dari ancaman pembangunan non pertanian dan nelayan.
  6. Menghentikan dan tidak memberikan ijin bagi aktivitas pertambangan skala besar dan yang bukan merupakan kebutuhan domestik Kabupaten Sabu Raijua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *