Rilis WALHI NTT : Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih TTU (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)

Rilis WALHI NTT : Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih Belu (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)
December 3, 2020
Rilis WALHI NTT : Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih Manggarai Barat (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)
December 4, 2020

Rilis WALHI NTT : Pekerjaan Rumah Calon Pemimpin Terpilih TTU (Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat)

Luas wilayah Kabupaten TTU ± 2,669,70 km2 atau sekitar 5,6 % dari luas daratan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada 2020 ini, TTU melangsungkan Pilkada untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati. KPU TTU telah menetapkan tiga calon yakni;

  1. Pasangan Kristiana Muki-Yoseph Tanu Nomor Urut 1 dengan tagline “Kita Sehati”
  2. Pasangan Hendrikus Frengkyanus Saunoah-Amandus Nahas (Fresh) Nomor 2
  3. Pasangan Djuandi David–Eusabius Binsasi Nomor Urut 3 dengan tagline “Desa Sejahtera”

Siapapun yang terpilih, memiliki PR besar bagi urusan lingkungan hidup dan masyarakat adat di TTU. Berikut potret krisis dan tantangan yang harus diselasaikan oleh calon pemimpin terpilih TTU.

1. KRISIS AIR

Pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat merupakan tanggung jawab negara. Krisis air di TTU merupakan PR besar bagi calon pemimpin TTU kedepannya. PDAM TTU belum mampu melayani kebutuhan air di desa-desa. Bahkan per November 2020,  banyak desa yang mengalami krisis air akibat kemarau panjang. Kurang lebih ada 20 desa mengalami krisis air bersih. WALHI NTT memprediksi krisis air di TTU akan terus terjadi dan meluas bila tidak segera ditangani dengan model konservasi kawasan penyuplai air secara konsisten dan berkelanjutan. Tantangan bagi calon pemimpin terpilih untuk mengatasi krisis air dari segi produksi dan akses di TTU. Calon pemimpin terpilih harus memiliki model penanganan dan pencegahan krisis air secara menyeluruh di TTU. Isu ini masih luput dari perbincangan publik dalam kontestasi Pilkada TTU.

2. KRISIS PANGAN

Tingkat kerawanan pangan di Kabupaten TTU masih tinggi. Per Agustus 2020, banyak petani di enam kecamatan mengalami gagal panen akibat minimnya curah hujan. Berikutnya kerawananan pangan yang dapat berakibat pada kelaparan, membuat pemerintah daerah harus membagi beras untuk para keluarga yang potensial mengalami rawan pangan. Artinya ketahanan dan kemandirian pangan di TTU masih menjadi PR besar bagi calon pemimpin TTU yang terpilih. Calon Pemimpin terpilih harus mampu meningkatkan indeks ketahanan dan kemandirian pangan di TTU. Calon pemimpin terpilih juga punya PR untuk kebijakan preventif untuk mengatasi gagal tanam, gagal panen hingga rawan pangan akibat perubahan iklim. Tantangan lain yakni pengembangan pangan lokal TTU.  Pertanyaan besar bagi calon pemimpin terpilih yakni adakah kemauan politik untuk mengembangkan kembali pangan lokal dalam skala besar dan meluas di TTU?

3. PERSOALAN SAMPAH & LIMBAH

Salah satu masalah krusial yang perlu ditangani secara serius dan kontinyu adalah sampah di Kabupaten TTU. Produksi sampah masyarakat, Timor Tengah Utara mencapai 85,2 Ton per hari. Persoalan sampah dan limbah medis menjadi masalah yang sering dikeluhkan masyarakat.  Dalam catatan WALHI NTT, pengelolaan sampah di TTU belum memenuhi amanah UU no 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Bahkan sejenis limbah medis pun masih dibuang sembarangan di TPS, hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan warga dan lingkungan hidup. Tantangan bagi calon pemimpin terpilih yakni bagaimana membuat model kebijakan menyeluruh dalam penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Kedua, memastikan bahwa tata Kelola sampah sudah sesuai dengan mandat UU No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

4. Pengrusakan dan alih fungsi kawasan hutan

Bertahun-tahun terjadi pembalakan secara liar di kawasan hutan Oemenu, Maol Nefomnasi, Nu’manu aijao, Fatufuel sumolo, Fatufuel Nefomnasi di Kecamatan Kota Kefa. Hal tersebut mengakibatkan Gubernur NTT membekukan ijin edar kayu bagi 7 perusahan. Begitupun yang terjadi di Bifemnasi-Saonmahole, Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan melakukan pembalakan tanpa mengantongi izin resmi dari KHL. WALHI NTT mensinyalir kejadian pembalakan liar banyak tersebar di hutan hutan di TTU. Luas hutan TTU sebesar 108.858 ha akan terus merosot apabila, calon pemimpin terpilih TTU tidak menghentikan praktek illegal yang terjadi. Tantangan bagi calon pemimpin terpilih adalah mengeluarkan kebijakan perlindungan hutan tegakan dan melakukan konservasi Kawasan hutan yang kritis. Hal ini penting karena perusakan hutan akan berdampak buruk bagi seluruh aspek kehidupan warga TTU. Mulai dari ekologi hingga kerugian ekonomi serta kemerosotan keseimbangan sosial budaya.

5. PR Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat lainnya

Calon pemimpin terpilih TTU memiliki tugas rumah besar dalam urusan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup serta perlindungan wilayah kelola rakyat dari upaya alih fungsi hingga perlindungan dan pengakuan sekaligus penguatan masyarakat adat di TTU. Berikut beberapa catatan lain menurut WALHI NTT yang menjadi pekerjaan rumah calon pemimpin terpilih TTU nanti:

  1. Maraknya alih fungsi lahan produktif atas nama pembangunan
  2. Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat melalui perda
  3. Dampak perubahan iklim dan pemanasan global
  4. Pemulihan daya dukung lingkungan terutama di ruang ruang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat
  5. Pembangunan ekonomi kerakyatan yang ramah lingkungan dan berkeadilan.
  6. Pengurangan resiko bencana alam
  7. Pencegahan kriminalisasi petani dan warga yang memperjuangkan lingkungan hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *